Minggu, 01 Februari 2015

mengeluh saja

Kenapa hanya keluhan yang kau keluarkan,
Kenapa hanya kesedihan yang engkau keluarkan
Kenapa hanya teriakan kekecewaan yang kau keluarkan
Kenapa kekesalan  yang hanya kau curahkan
Apa kamu tidak punya tujuan hidup
Apa kamu hidup hanya untuk kesedihan
Apa kamu hidup hanya untuk kekecewaan ataupun kekesalan
Apa kamu hanya hidup untuk dirimu sendiri
Apa tidak ingat
Kamu punya teman, keluarga,sahabat
Dan tidak ketinggaalan, kau punya tuhan
Berfikirlah bahwa setiap kejadian pasti ada hikmah
Disetiap kejadian adalah rencana tuhan
Aku tahu, kamu kesal karena usahamu ada yang gagal
Tapi ingat, tidak semuanya gagal
Apakah kau tidak ingat
Hidup memang terasa pahit
Hidup memang terasa susah
Karena surga itu rasanya manis

Minggu, 25 Januari 2015

olah limbah jadi berkah



“ Olah Limbah Jadi Berkah “



Pagi itu masih gelap, nampaknya matahari masih malu-malu untuk menampakkan diri. Kulangkahkan kakiku dengan malas menuju kamar mandi dengan handuk bersandar dibahu. Nampaknya kran kamar mandi kamarku macet, kuputuskan berjalan keluar menuju kamar mandi yang terletak di sebelah kamar adikku. Langkahku terhenti ketika kulihat ayahku nampak bingung berjalan kesana-kemari dengan handphone ditelinganya. Entah apa yang dibicarakannya hanya helaan nafas panjang dan bentakan-bentakan  tegas yang ditujukan kepada orang di seberang telepon itu. “ ayah..” tegurku tenang, namun gelengan kepalanya mengatakan tidak ada masalah dan tangannya mengisyaratkan untuk menyuruhku segera pergi. Ketika kubalikkan badanku dan berjalan kembali, langkahku terhenti dan suara ayahku kembali meninggi.” Saya tidak peduli, bereskan segera. Kalau perlu ratakan.” Ucapnya setengah emosi.” Ya, dua bulan waktumu, segera.” Tambahnya lagi, apa maksudnya? Ratakan? Dua bulan? Kenapa aku jadi bingung, toh biasanya aku tak peduli dengan apapun urusan ayahku, tak biasanya.
            “Sudah mandi kak?” tanya Bi Inah pengasuhku sejak kecil.
            “Sudah bi, Desi mana?” tanyaku penasaran karena meja makan hanya ada aku sendiri.
            “Adek sudah berangkat tadi, bareng sama ibu.” Jawabnya sambil membersihkan piring bekas
  Desi sama bunda.

Bi Inah berjalan kembali menuju dapur, aku tahu bunda sama Desi pasti nemenin ayah ke pertemuan rutin dengan kolega-koleganya. Terngiang kembali pikiran tentang perkataan ayahku pagi tadi. Sudahlah bisa kutanyakan nanti kalau aku mau.

            “Bi, aku pergi, nanti kalau bunda tanya aku kerumah Azzah.” Teriakku ke arah dapur.
            “Iya kak, hati-hati.” Sambungnya dengan sedikit berteriak.
            “Iya.”

********

            Sesampainya di rumah Azzah kulihat Syafiq dan Afifah tengah duduk dan bermain gitar di teras belakang dengan satu bungkus snack ringan berukuran extra besar di pangkuan Syafiq. Seperti biasa rumah Azzah adalah tempat dimana kita berempat biasa berkumpul. Selain udaranya yang segar camilan disini juga terjamin. Itulah sebabnya kita memilih rumah Azzah sebagai pos kedua setelah rumahku.
            “Hei Bil, sini ngapain bengong disitu.” Seru Afifah dengan melambaikan tangannya ke arahku.
            “Udah lama kalian? Sorry banget macet weekend sih, para kurcaci Jakarta pada ngerayap ke
  tempat wisata.” Tanyaku sambil mencomot snack Syafiq dan pelototan tajam darinya .
            “Ya udahlah, lo sih kemarin malem suruh nginep nggak mau, telat kan lo sekarang.” Jawab
  Azzah sambil menggerak-gerakkan tangannya diatas senar gitar coklat miliknya.
            “Iya Sori, emang si coklat dari tadi malem nggak ngrengek tuh lo petik mulu. Bosen kali dia, apalagi kalo dia bisa ngomong, uh udah pasti dia bakalan bilang kayak gini, gue mau lari dari kehidupan ini, gue mau bebas, tangan si Azzah terlalu kasar buat nyentuh setiap body gue, tuh ketek selalu nempel di body gue dan baunya itu bikin kiamat jadi sebentar lagi, tolong aku Tuhan... aku tersiksa. hahahahha....”

Tawa kami terlepas keras dan tanpa aku sadari tubuhku sudah dihujani cubitan dan pukulan dari Azzah.

            “Apaan sih lo nggak lucu tau, lagian lo berdua ngapain ikut ketawa! eh denger ya, si coklat tuh kalo nggak gue sentuh sehari aja pasti dia bakalan bilang kayak gini aduh kangen sama petikan si cantik, harum dan jenius itu deh.” Katanya membela diri.
            “yee.. ..lo beudue paa giya yaw( yee.. lo berdua pada gila ya).” Ucap syafiq dengan makanan penuh dimulutnya.
            “Telen dulu gendut baru lo ngomong, katanya lo mau diet baru juga turun seons naiknya tujuh kilo.”
            “Tau tuh, katanya lo mau narik perhatiannya Desi gimana sih lo, kalo lo tiap hari kayak gini dijamin adek gue nggak akan mau sama lo, biaya hidup mahal sama lo. Hahahaha”
            “ Yaudah gue mau stop makan mulai hari ini, tapi kalau abis ini mbok darmi bawa lagi ya, gue nggak mau nolak.” Katanya sambil meletakkan snack itu dari tangannya.
            “ huu..... dasar doyan makan lo, eh ngomong-ngomong lo pada, tahu masalah sungai yang  dicemari limbah Peternakan Danggu?” tanya Afifah membuka percakapan keseriusan.
            “Nggak, gue baru denger malah, kenapa emang?” tanyaku penasaran
            “Itu bukannya Peternakan bokap lo ya Bil?” tambah Syafiq.
            “He.em, gue malah nggak tau apapun, dapet berita darimana Fah?”
            “ Dari media, lo kemana aja sih, makannya kalo punya tv tuh diliat jangan dianggurin, tuh koran juga banyak dipajang dipinggir jalan nganggur, beli atau baca kek.”
            “Sumpah deh gue nggak tau, lagian orang di rumah juga pada diem nggak ngomongin hal ini sama sekali. Lo salah denger atau liat kali jangan macem-macem lo nyebar gosip murahan kayak gini.” Belaku santai
            “Apaan, nggak, Azzah tahu juga kok. Kemarin kita liat bareng di tv, katanya hari ini          pemilik dari Peternakan itu mau klarifikasi masalah ini, yang berarti itu bokap lo.”
            “Mana tv lo gue mau liat, nggak percaya gue. Awas ya kalo lo pada ngarang cerita, ini       masalah serius. Dan gue yakin bokap gue nggak mungkin mencemari lingkungan     sekitar
            peternakan, orang limbahnya aja diolah juga. Dan bokap gue nggak mungkin sejahat itu mau
merusak biota sungai.” Kulangkahkan kakiku menuju ruang tv diikuti Azzah dan yang lainnya.

            Sepertinya apa yang aku lihat memang benar, itu ayah bersama pak Hadi selaku penanggung jawab salah satu peternakan ayah yang ada di Jombang. Beliau terlihat tenang namun, dibalik ketenangan itu menyimpan semburat kekecewaan. Kasus ini datang tiba-tiba disaat peternakan ayahku sedang berkembang sangat apik, dan mulai sukses. Mungkin memang ada beberapa orang yang iri atau tidak suka dengan keberhasilan ayahku. Aku ingat waktu pertama kali ayah meresmikan peternakan sapi perahnya di Jombang empat tahun lalu memang sempat ada pro kontra terhadap usaha ini. Sebagian warga disekitar sana setuju dengan alasan kampung mereka berarti strategis dan berpotensi besar untuk pembangunan desa. Sebagian lainnya menolak karena dianggap akan mencemari dan memblokade mata pencaharian warganya. Namun karena kegigihan ayah yang kuat dan pemberian arahan serta bimbingan akhirnya warga disana setuju namun dengan syarat peternakan itu harus mengolah benar-benar limbahnya. Mereka tidak mau kalau desa mereka akhirnya tercemar baik kotoran hewan maupun yang lainnya. Dan ayahku setuju dengan perjanjian itu bahkan sebagian warga banyak yang bekerja di peternakan itu. Dan sekarang ayahku digugat oleh salah satu warga karena dianggap lalai dengan pengolahan limbah peternakannya. Peternakannnya dianggap telah mencemari lingkungan sungai disekitar sana. Sungai yang sehari-harinya digunakan warga untuk mencuci kini lumpuh total akibat pencemaran itu.
            “ Apalagi bau yang ditimbulkan sangat mengganggu pernafasan dan penciuman.”
Itulah salah satu komentar warga yang terlihat di layar televisi itu, rautnya penuh kebencian dan kekecewaan. Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan teman-temanku menggeleng tak percaya. Kini giliran ayahku memberikan keterangan didampingi dengan pak Hadi dan om Rudi selaku pengacaranya.
            “Saya rasa telah terjadi kebocoran pipa gas buang, sehingga kotoran yang seharusnya mengarah ke bak pengolahan bocor dan tumpah ke saluran yang mengarah ke arah sungai. Saya minta maaf atas kecerobohan dari pihak kami.” Ucapannya ditutup dengan permohonan maaf dan mereka memutuskan untuk mengakhiri klarifikasi hari itu. Kubalas tatapan teman-temanku tanpa bisa berkata apa-apa. Sepertinya mereka mengerti apa yang sedang kurakasan kini. Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas dan mengambil tasku di sofa teras belakang Azzah dan langsung pergi.
             “Mau kemana lo Bil?” tanya Azzah mengagetkan langkahku yang terlihat buru-buru.
            “Mau pulang gue, liat berita tadi kayaknya gue perlu bikin perhitungan sama bokap.”
            “Tapi, itu bukan sepenuhnya salah bokap lo juga bil, mungkin karyawannya lupa    ngecek pipa atau yah, seperti apa yang dijelaskan bokap lo tadi, itu murni kebocoran.”
            “Lo tau kan gue di sekolah ikut ekstra apa, dan lo semua juga tau kan di ekstra kita itu      melarang keras yang namanya pencemaran, penebangan, dan pemusnahan. Dan kita sebisa mungkin melakukan konservasi.”
            “Iya gue ngerti, dua kali lebih faham dibanding lo, cuman kan keadaannya nggak memungkinkan, lo tau kan bokap lo saat ini lagi banyak pikiran, lo sebagai anak             harusnya
ngerti dong.” Kata Syafiq dengan nada kecewa terhadapku.
            “ Lagian kita bisa lihat dulu perkembangan dari kasus ini, udahlah lo tenangin pikiran lo, jangan gegabah terus nyalahin bokap lo.” Jangan gegabah? Apa sih yang ada difikiran Afifah, sama temen-temen gue ini? Aku tahu maksud mereka baik namun untuk saat ini aku harus pulang segera dan menyanyakan secara gamblang masalah ini sama ayah, aku tak peduli dengan teriakan teman-temanku yang memanggil namaku dan melarangku untuk pergi. Tapi aku rasa saat ini inilah  keputusan terbaik untukku.

********

            Sesampainya dirumah kutunggu ayahku di ruang keluarga. Aku tahu ayahku pasti akan melewati ruang ini untuk menuju ke kamar ataupun ke ruang kerjanya. Benar saja hampir dua jam lamanya aku menunggu sambil menonton televisi beliau datang bersama Desi dan bunda. Wajahnya sayu dan letih sepertinya itu terlihat juga di wajah bunda dan Desi yang biasanya selalu berteriak-teriak saat melihatku hanya bemalas-malasan di depan tv. Tapi hari ini lain, sepertinya bunda sengaja membiarkanku begitu saja dan Desi juga tak peduli denganku, bahkan ia ikut-ikutan tidur di sofa sebelahku. Ayah hanya memandangku dan mengangguk sambil melanjutkan langkahnya menuju kamar bersama bunda.
            “ayah, aku mau bicara sekarang.” Ucapku mendesak dan mengikuti langkahnya.
            “Tidak sekarang kak, ayah sedang lelah.” Jawabnya berat dan lemas.
            “Tapi ayah, ini menyangkut tentang...” belum selesai aku berbicara sudah dipotong oleh bunda.
            “Ayah benar kak, ayah perlu istirahat kasihan ayah, seharian disudutkan dan kamu tahu itu.”
            “Sudah bunda, bunda masuk dulu nanti ayah nyusul.” Kata-kata ayah dan isyaratnya nampak   diikuti oleh bunda meski berat hati.
            “ Kasus peternakan? Ayah tahu, kamu mungkin kecewa sama ayah tapi.......” kalimatnya berhenti begitu saja diikuti dengan helaan nafas panjang dan       
            “Baiklah ayah perlu mandi dan mungkin kamu juga begitu, selesai makan malam temui ayah diruang kerja kita bisa ngobrol masalah ini berdua.” Tanpa persetujuan dariku tangannya menepuk lenganku dan meninggalkanku begitu saja menuju kamarnya.
Kuhampiri Desi yang sedari tadi sudah mulai sibuk membenamkan diri di sofa untuk tidur tanpa memikirkan bau badannya yang sedari pagi baru diguyurnya sekali.
            “Dek, kamu mandi kek, bau tau.”
            “Bentar ah, mau tidur setengah jam aja, ntar bangunin aku ya kak, capek banget seharian.” Ucapnya disertai dengan menarik bantal sofa menutupi wajahnya.
            Kubuka penutup wajah itu dan rengekak-rengekan kecil yang manja dan marah yang kuterima. Tanpa lama-lama aku langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sama ayah hari ini.
            “Tau ah, Desi ngantuk kak, mau tidur bentar aja.”
            “Oh, oke kakak nggak akan ngajakin kamu kalo kakak sama temen-temen kakak mau camping.” Aku tahu adikku yang satu ini selalu ngintilin kakaknya kalau aku lagi berkemah sama teman-teman. Dia memang hobi banget sama camping dan hiking. Bahkan sebenarnya aku nggak tahu mau camping kemana, sama siapa dan kapan. Cuman hal itu bisa dipikir nanti. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa mengatakan hal seperti itu.
            Camping? Kapan? Kemana? “ tuh kan bener, adikku langsung bangun dan bahkan sangat antusias. Ini adalah trik yang sering aku gunakan selain jalan-jalan bersama.
            “Jawab dulu pertanyaan kakak, baru kakak kasih tau kemana dan kapan.”
            “Hu.... dasar, kalau ada maunya aja gitu. Eh tapi bener ya awas kalau bohong.” Sambil mengancamku tangan kanannya mengepal dan dan mengarahkan ke depan hidungku yang indah.
            “Iya. Emang kakak pernah bohong, nggak kan?”
            “Heh, enggak kalau sadar. Nah kalau nggak sadar rajanya buat bohong.”
            “Iya, deh bener kalau kali ini.”
            “janji?”
            “Iya, adikku yang cantik, imut dan pinter.” Kupencet hidungnya yang mungil dengan sengaja untuk meyakinkannya.
            “Aduh, sakit tau, mau dikasih tahu nggak nih?”
            “maaf..maaf, iya dong, udah buruan apa.”
            “huh, jadi gini tadi itu ayah klarifikasi masalah peternakannya yang ada di Jombang itu. Nah, dari klarifikasinya itu tidak disambut baik sama warga di sekitar peternakan. Bahkan ada beberapa warga yang demo di depan peternakan itu supaya menutup            peternakan. Mereka nggak mau kalau pencemaran itu meluas dan mencemari daerah lain sekitar peternakan. Ayah sempat bingung banget dan sempat mau meratakan peternakan itu. Bahkan tadi bunda sempet adu argumen sama ayah tentang perataan peternakan itu. Ayah ngasih waktu ke pak Hadi penanggung  jawab peternakan           Jombang buat ngeratain semua peternakan itu selama 2 bulan. Dan itu barang tentu    udah buat bunda marah dan shock.” Kalimatnya berhenti ketika Desi memandangku tak berkedip.
            “Kakak dengerin aku nggak sih? Aku kan capek udah ngomong panjang lebar, kesana       kemari dan kakak cuman diem . bilang kek oh, um, gitu atau apa kek, yaudah kalau gitu aku mau mandi dulu.”  Sepertinya dia kecewa dan menganggapku tak memperhatikan setiap ucapannya. Padahal sedari tadi aku mendengarkannya sangat apik dan berusaha mencerna setiap kata-katanya.
            “Iya kakak denger kok, gitu aja ngambek, Desi kakak belum selesai nanya sini dulu.”
            “Bodo, udah ah males ngomong sama kakak.” Serunya sambil berteriak diikuti dengan manaiki tangga menuju kamarnya.
            “Campingnya?”
            “Males kalau kakaknya kayak gitu.”
            “Yaudah.”
            Pandanganku masih tertuju pada anak tangga yang ditinggalkan Desi yang semakin lama bayangannya semakin menghilang. Aku mencoba mencerna kembali kata-kata Desi mengenai perataan peternakan. Aku baru ingat pagi tadi ayah sempat menelpon seseorang untuk perataan. Apa mungkin itu pak Hadi, dan ayah juga mengatakan kalau hanya dua bulan waktunya. Entah kenapa aku sangat yakin dengan apa yang aku degar tadi pagi dan apa yang disampaikan Desi barusan.
            “Kak, kamar mandi di kamar kakak sudah di benerin tadi siang. Sekarang sudah bisa dipakai, sok atuh di coba.” Lamunanku dibuyarkan oleh suara Bi Inah yang tiba-tiba sudah didepanku.
            “Eh, iya terimakasih ya bi. Nanti dicoba.”
            “Sekarang saja, itu bau badannya dari pagi kan baru mandi sekali kak.”
            “Hehehehe, iya deh nanti Bi Inah klepek-klepek lagi nyium baunya.”
            “Ya. Makannya sok mandi, bau. Nanti bisa pingsan saya teh.”
            “Iya Bi Inah. Mau dimandiin lagi dong kayak dulu.” Sengaja aku menggodanya.
            “Ih, kakak malu atuh ih, sekarang mah kakak sudah gede pisan jadi bisa mandi sendiri.” Jawabnya dengan sedikit malu.
            “Iya deh, aku mandi.” Kulangkahkan kakiku menuju kamarku di lantai dua dan meninggalkan Bi Inah diruang keluarga yang sedang merapikan sofa yang sudah berantakan karena ulahku yang berantem kecil sama Desi.

********

            “Ayah.” Sapaku saat memasuki ruang kerjanya dan terlihat beliau sedang duduk di sofa. Sepertinya beliau sudah menungguku sejak hampir setengah jam yang lalu seusai makan malam.

            “Duduk kak.”
            “Maaf ayah, aku terlambat. Tadi masih ngajarin Desi bikin PR kimianya.”
            “Iya, tidak apa-apa.”
            “Ayah, aku nggak tau harus memulainya darimana.”
            “Ayah mengerti. Pasti kamu sangat kecewa sama ayah kan? Kamu dengar apa yang ayah bicarakan di telepon tadi pagi?”
            “Iya  denger.bahkan tadi siangpun saat aku ada di rumah Azzah aku nonton ayah di tv.”
            “Iya, persoalan ini rumit Sabil. Ayah sebenarnya bingung harus bagaimana. Limbah itu sebenarnya memang sengaja dialirkan ke sungai karena memang daya tampung bak pengolahan itu masih penuh. Dan pembangungan bak kedua belum selesai.”
            “Ha? Ayah sengaja nyuruh pak Hadi ngalirin limbah kotoran itu ke sungai? Apa sih yang ada dipikiran ayah he? Ayah tahu kan sungai itu sangat penting untuk mereka. Itu satu-satunya mata air bersih ayah. Dan ayah tahu itu sudah menyalahi perjanjian itu?” Hanya anggukan kecil tanda beliau tahu dan sedikit kata yang terucap dari mulutnya.
            “Iya ayah tahu.”
            “lalu apa tindakan ayah?”
            “Bunda melarang ayah untuk menutup dan meratakan peternakan itu. Sementara ini ayah masih mengupayakan untuk penyuplaian air bersih dan ganti rugi untuk masyarakat disana. Dan ayah mau kamu pergi ke daerah Tretes Jombang. Disana ada beberapa peternakan kecil dan pengolahan hasil dari ternak mereka. Tiga hari saja.”
            “Untuk apa ayah? Jadwalnya?” tanyaku bingung untuk apa beliau menyuruhku pergi ke sana.
            “Ayah mau kamu tahu tentang pengolahan dan pemanfaatan dari setiap bagian dari           peternakan. Lagian ayah dengar kamu mengikuti ekstra tentang lingkungan hidup. Dan ayah yakin kamu akan senang disana. Jadwalnya minggu depan. Kamu bisa ajak temen-temen dan adek kamu juga.” Kalimatnya ditutup dengan ucapan selamat malamnya kepadaku dan menyuruhku segera beristirahat.
            Aku keluar dari ruang kerja ayah dan menuju kamarku untuk tidur. Sesampainya dikamar aku tak langsung tidur melainkan menghubungi teman temanku satu persatu untuk ikut denganku. Mereka memang kaget, namun akhirnya mereka menyetujui dan siap menemaniku. Tak lupa ini adalah ide bagus untuk menepati janjiku untuk camping dengan Desi. Aku tahu dia pasti senang dan tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat adik perempuanku satu-satunya bahagia. Lambat laun mataku sudah menutup dan aku berada di alam bawah sadar dan terbawa oleh mimpi yang indah dan menyenangkan. Aku tertidur.

********
            “Gimana semua siap?” tanyaku sambil menggendong tas camping super besar dan tenda berada di tangan kananku.
            “Siap.” Seru semua teman-teman dan adikku tentunya.
            Lets’go!
            Sesampainya kami di Tretes aku Syafiq dan Afifah segera menancapkan pasak sebagai penopang dan penguat tenda. Sedang Azzah dan Desi nampak sibuk mempersiapkan kayu untuk api unggun kami. Tretes memang daerah pegunungan yang sejuk dan indah udaranya segar maka tak heran banyak sekali para wisatawan yang datang untuk camping dan mendaki. Seusai menegakkan tenda dan api unggun juga nampak sudah siap untuk dibakar aku dan teman-temanku hendak berjalan-jalan untuk mengisi udara sore yang sejuk. Meninggalkan bumi perkemahan dan mulai berjalan, melewati jembatan indah dibawahnya mengalir sungai deras dan jernih. Pandanganku terpaku pada sebuah gapura besar menuju kearah sebuah pagar tinggi yang menutup hampir seluruh bangunan di dalamnya. Sebuah plat besar berada di tengah-tengah gapura bertuliskan “ KOPERASI SUSU TRETES”. Apa ini yang dimaksud ayah?Ini koperasi besar untuk ukuran sebuah desa kecil diatas pegunungan ini. “Kak, ayo!” suara Desi menghancurkan lamunanku.
            “Eh, iyaiya. Besok kita masuk kedalamya guys. Gue mau observasi di sini” ucapku penuh keyakinan.
            “Oh, jadi ini yang dimaksud bokap lo bil?”Azzah yang Nampak penasaran langsung menanyakan kepadaku.
            “Kayaknya sih iya.”
            Syafiq dan Afifah memang memilih untuk melanjutkan perjalanan, mereka tak menghiraukanku yang sedari tadi menatap bangunan tinggi itu.
            “lo udah izin buat masuk ke dalam?”
“Bokap gue bilang sih udah. Bahkan sebenarnya kita disiapin penginapan. Cuman karena gue pengen camping jadi gue putusin buat nggak make penginapan itu. Lagian gue juga udah janji sama Desi buat ngajakin dia camping.
“Iya, kalau janjikan emang harus ditepatin. Iya nggak Mbak Azzah?” tiba-tiba Desi menengahi pembicaraanku dengan Azzah.
“Iya dong, eh kamu gimana sekolahnya? Lancar?”
“Iya lancar mbak, habis jalan-jalan kita mau ngapain? Katanya aku denger disini ada air terjun indah banget diatas sana. Beneran?”
“Makan dulu, habis itu bisa menikmati udara malam yang indah di sini. Oh iya kalau masalah air terjun itu mbak juga belum tahu. Gimana bila ada?”
“Iya ada.Mau liat? Hari terakhir di sini aja kita kesana. Kalau besok kita harus ke koperasi itu.”
“Boleh.” Azzah dan Desi menjawab bersamaan dengan semangat dan kompak.
           
********

            Sejuk, dingin, segar itulah gambaran udara pagi ini. Embun pagi masih menyelimuti desa ini dengan gagahnya. Di depan pagar tinggi yang menutup bangunan di dalamnya. Disitulah sekarang aku berdiri bersama teman-temanku dan juga adikku tentunya. Menunggu satpam koperasi membuka pagar besi, beberapa orang tampak menyapa kami dengan senyum. Beberapa mobil box  juga keluar masuk melalui pagar besar ini. Tak lama kemudian pintu kecil sebelah pagar besar itu terbuka dan seorang satpam menyuruh kami untuk masuk.Ternyata benar, bangunan di dalamnya juga tampak besar dan panjang. Seorang petugas koperasi menyambut kami dengan sebuah kendaraan yang mirip dengan mobil namun terbuka, menyuruh kami segera naik dan berkeliling dengannya.
“Sebelumnya saya ucapkan selamat datang kepada kalian, dan terimakasih sudah bersedia mampir ke koperasi desa.” Itulah kalimat pertama yang muncul dari mulut petugas ini.
“Iya, sama-sama.Oh iya, ini dengan bapak siapa?”
“Maaf-maaf saya sampai lupa memperkenalkan diri. Saya pak Indra selaku penanggung jawab dan pengawas koperasi ini. Ini pasti Mas Sabil?”
“Eh, bukan-bukan pak. Saya Syafiq, kalau Sabil mah yang itu,hehehehe.”
“Iya pak saya.”Kataku seraya menjabat tangan pak Indra.
“Kalau tiga cewek cantik ini pasti salah satu adiknya Mas Sabil sama temennya.”
“Kok bapak tau. Iya ini adik saya Desi, ini Azzah dan satu lagi ini Afifah.” Azzah dan Desi menjabat tangan pak Indra bergantian tanda perkenalan.
“Iya, kemarin ayah kalian menghubungi saya dan memberitahu pihak koperasi akan ada kunjungan dari para anak remaja yang ingin belajar dari peternakan ini, sebelumnya saya juga mau mengucapakan terimakasih lagi karena telah bersedia mengunjungi tempat kami. Mungkin ini adalah koperasi terbesar di desa ini. Dan saya ikut prihatin dengan kasus yang menimpa ayah mas..”
“Iya pak terima kasih sudah peduli. Yah namanya juga usaha. Kadang di atas kadang di bawah.”
“Iya, roda memang selalu berputar, mas-mas dan mbak-mbak sekarang saya akan menunjukkan tempat pemerahan susu.”
“Oke pak, kita bisa minum langsungkan?” seru Syafiq dengan antusiasnya.
“yeee.. lo mah kalau soal kayak ginian aja cepet.” Celetuk Afifah gemas.
“Bisa, tapi lebih enak diolah dulu mas, nanti saya tunjukkan tempatnya dan kalian bisa mencobanya.” Terang pak Indra dengan senyuman yang tak pernah hilang dari bibirnya.
Setelah berkeliling peternakan dan menikmati susu segar aku dan teman-temanku serta adikku menuju ke tempat perkemahan. Dan yang paling penting hari ini ada pelajaran berharga yang kita dapatkan. Ya, mengolah limbah, sebenarnya inilah tujuan utama ayah mengirimku kesini untuk mengetahui cara pengolahan limbah dan kelak akan diterapkan di peternakan beliau. Baru aku tahu ternyata limbah kotoran disini diolah sendiri bahkan koperasi ini juga menerima limbah kotoran dari para peternak kecil di sekitar koperasi itu. Hal ini tentu sangat berbeda dengan peternakan ayah yang menjual semua limbahnya kepada para penadah dan pabrik kompos. Itu bukan tanpa alasan, melainkan karena ayah belum sanggup untuk mengolahnya sendiri. Selain sarana dan prasarana yang belum mencukupi pihak pengolah limbah sendiri juga belum ada. Jadi , ketika ayahku memutuskan mengalirkan limbahnya ke sungai saat itu alasannya adalah pihak pabrik yang biasa mengambil limbah tersebut tidak mengambilnya dalam jangka waktu yang cukup lama , kira-kira hampir dua minggu. Tentu saja bak penampungan yang biasa cukup untuk menampung limbah lima hari hingga satu minggu itu penuh dan terpaksa pihak penanggung jawab peternakan P.Hadi memutuskan mengalirkan limbahnya ke sungai meski hanya seperdelapan saja dan tentu dengan persetujuan ayah.
Untuk koperasi ini mengolah limbahnya dengan dijadikan pupuk kompos dan biogas untuk kebutuhan memasak masyarakat sekitar koperasi. Kompos itu sendiri juga untuk mensehjahterakan para petani sayuran di sekitar koperasi tersebut. Jadi semua limbah tidak ada yang dibuang. Nah,untuk pengolahan kompos sendiri aku dan teman-teman serta adikku turut melihat dan mencoba. Untuh bahan-bahan dan alatnya sudah disiapkan dari pihak koperasi aku dan teman-temanku tinggal mengolah. Berikut bahan,alat dan cara pembuatannya.
Bahan:
  1. Kotoran ternak. Sapi, (2 ton / 2000kg)
  2. Jerami yang dicacah terlebih dahulu kurang lebih 5-10 cm. (secukupnya)
  3. Arang Sekam (secukupnya), Sekam yang sudah dibakar namun tidak samapi menjadi abu. lihat proses pembuatan arang sekam
  4. Air (20 liter)
  5. EM4 (5 sendok makan)
  6. Gula pasir (5 sendok makan)
  7. Bubuk gergaji atau bisa juga dengan dedaunan dan bahan-bahan organik lainnya.
Alat:
  1. Sekop
  2. Cangkul
  3. Sarung tangan
  4. karung goni
Setelah selesai menyiapkan semuanya aku mulai belajar mengolahnya disini. Pengolahannya masih menggunakan cara manual dan sedikit-sedikit. Kira-kira seperti ini tutorialnya :
·  Siapkan media pembuatan pupuk, ditempat yang sejuk tidak terkena matahari langsung dan tidak kena hujan jika terjadi hujan.
·  Larutkan EM4 dan gula kedalam air. 
·  Lapisan pertama, Campurkan Kotoran ternak dengan arang sekam kemudian aduk hingga merata, setelah itu taburkan dekomposer (EM4 dan gula yang sudah dilarutkan dalam air) tadi secukupnya aduk hingga merata.
·  Lapisan Kedua Taburkan jerami, dedak, bubuk gergaji dan bahan-bahan organik lainnya hingga merata kemudian siramkan dekomoser tadi.
·  Setelah itu tutup rapat tumpukan bahan-bahan tadi dengan rapih dengan menggunakan karung goni dan jerami.
·  Hari Kedua aduk adonan tersebut hingga merata dan tutup kembali rapat-rapat.
·  Lakukan monitoring setiap pagi dan sore, dengan cara memasukan tangan (dengan sarung tangan) jika tangan kita tidak kuat menahan panas adonan maka adonan belum siap dipakai. aduk setiap melakukan monitoring.
·  Biasanya hari ke empat adonan sudah siap, cara menceknya masukan tangan anda jika bisa menahan panas adonan maka pupuk kompos organik siap dipakai.
            “uh... gue jijik banget awalnya , tapi pas nyentuh nggak ada jijik-jijiknya.” kata Azzah
            “iya aku juga mbak. Cuman baunya itu lho yang bikin muntah.” Tambah Desy
            “Nah sekarang lo pada tahu kan gimana cara ngolah e-ek. Kalo gitu olah e-ek gue gih.” Timpalku asal.
“ih , ogah banget” Seru semuanya serempak dan kompak seolah dikomando.
“Tau, jorok banget lo bil, ngolah e-ek sapi aja gue ogah apalagi ngolah e-ek lo. Ueeek..” kata Syafiq sambil merapikan ranselnya seraya berpura-pura muntah.
“Apaan lo, jadi cowok tuh harus bisa ngapain aja. Masak lo takut cuman sama e-ek sapi.. huuu...” seruku tak mau kalah
“ih, gue nggak takut kali, cuman lagi nggak mood aja sama e-ek sapi . abisnya tuh e-ek rese’ pakai nimbulin bau lagi”
“ Gendut, itu bukan e-eknya yang rese’ lo nya yang nggak ada nyali. Badan aja gede, sama e-ek sapi lo keok.” Sahut Afifah.
“Kan setiap orang beda-beda mbak, mungkin emang Mas Syafiqnya phobia sama e-ek.” Sambung Desy seolah membela Syafiq.
Ceileh...dibelain lagi. Gendut, makin semangat aja ngurusin badan abis ini.” Seruku disertai ledak tawa kami semua.
“yee.... apaan sih lo. Tapi makasih ya cantik.”
“cacar bintik-bintik keles.” Celetuk Azzah dan tawa kami kembali meledak.
“Udah- udah kalian pada capek-kan abis ini kita istirahat bentar , terus beres-beres ya kita pulang sore ini.”
“Ha sore ini? Kok mendadak banget sih.” Tanya Azzah dengan ekspresi kagetnya yang diikuti semuanya.
“Kok sore ini, bukannya kita besok mau naik liat air terjun itu?.” Tanya Syafiq penasaran.
“Iya , ayah gue nelpon , katanya kita harus segera balik ada hal penting yang mau dibahas tentang observasi ini dan masalah naik ke air terjun itu bisa bulan depan. Kita ada libur satu minggu akhir bulan depan.”
“Yah, tapi kan aku nggak libur kak.”
“Kamu bisa nyusul pas weekend dek, gimana mau”
“huh oke deh bisa.”
“Gimana sama kalian guys?
“Kita sih terserah lo, tapi makasih ya, ini pelajaran yang berharga banget buat kita ya nggak guy?” tanya Afifah .
“Iya bener banget.”
“Yaudah sekarang kita istirahat 2 jam habis itu kita pulang. Selamat istirahat semua.”
“Iya”
********
            Akhirnya sampai juga aku di rumah. Kuhempaskan tubuhku diatas tempat tidur yang sudah beberapa hari ini kutinggalkan untuk misi mulia membantu peternakan ayah. Huh.. empuk sekali , semilir angin jendela kamarku masuk dengan lembut dan membuatku lelap dalam tidurku dngan badan apek yang belum kuguyur dari pagi tadi.
            Malamnya, seusai makan malam ayah memintaku menemuinya di teras belakang. Tumben, biasanya ayah selalu memintaku menemuinya di ruang kerjanya. Mungkin udara malan seperti inlah yang dirindukannya.
            “Apa yang kalian dapatkan dari sana kak?”
            “Banyak yah, Udaranya adem enak banget.”
Iya, memang udara di sana sangat segar jauh dari polusi udara. Masyarakatnya juga sangat menjaga lingkungannya.”
“Iya yah, aku nggak nyangka ada koperasi besar di sana.”
“Memang, itu adalah koperasi desa kak. Masyarakat yang mempunyai peternakan juga menyuplai susu dan limbahnya disana.”
“Ya, ayah benar. Bagaimana perkembangan kasus ayah?”
“Alhamdulillah kak, Kita memilih jalur damai asalkan limbah itu benar-benar diolah dan ini juga kesempatan terakhir peternakan ayah beroperasi.”
“oh, jadi ini alasan ayah mengirimku kesana?”
“Iya, dan ayah juga sudah mencari orang untuk mengatur pengolahan limbah ini. Dan ayah harap kamu bisa mengawasi mereka.”
“Tapi kan aku baru sekali ayah.”
“Tak apa kak, ayah percayakan ini semua sama kakak.”
“Baiklah.”
“Ya sudah , sekarang sudah malam sebaiknya kita tidur. Kembalilah ke kamar kak. Selamat malam kak.”
             “Iya malam ayah.”

*************
            Pagi ini aku ke peternakan ayah, ditemani dengan Desy dan kita mengawasi betul detail demi detail pengolahan limbah itu. Sesekali aku dan Desy memberikan pengarahan kepada para petugas itu. Mulai sekarang limbah itu bisa diolah dan tidak akan mencemari lingkunan lagi. Seusai dari peternakan aku dan Desy memutuskan untuk pergi ke rumah azzah karena sebelumnya aku sudah membuat janji dengan mereka untuk berkumpul hari ini.
            “hei guys, lama tak jumpa. Kangen gue sama kalian” sapaku.          
            “ ah, gaya lo aja bil” jawab Azzah.
            “ iya tuh, gitarnya sudah kangen sama kamu.” sahut Afifah.
Aku dan teman-temanku tentunya adikku juga bersenang-senang pada hari itu setelah lama tidak bertemu, apalagi setelah selesainya masalah peternakan ayahku itu.
************