“ Olah Limbah Jadi Berkah “
Pagi
itu masih gelap, nampaknya matahari masih malu-malu untuk menampakkan diri.
Kulangkahkan kakiku dengan malas menuju kamar mandi dengan handuk bersandar
dibahu. Nampaknya kran kamar mandi kamarku macet, kuputuskan berjalan keluar
menuju kamar mandi yang terletak di sebelah kamar adikku. Langkahku terhenti
ketika kulihat ayahku nampak bingung berjalan kesana-kemari dengan handphone
ditelinganya. Entah
apa yang dibicarakannya
hanya helaan nafas panjang dan bentakan-bentakan tegas yang ditujukan kepada orang di seberang
telepon itu. “ ayah..” tegurku tenang, namun gelengan kepalanya mengatakan
tidak ada masalah dan tangannya mengisyaratkan untuk menyuruhku segera pergi.
Ketika kubalikkan badanku dan berjalan kembali, langkahku terhenti dan suara
ayahku kembali meninggi.” Saya tidak peduli, bereskan segera. Kalau perlu
ratakan.” Ucapnya setengah emosi.” Ya, dua bulan waktumu, segera.” Tambahnya
lagi, apa maksudnya? Ratakan? Dua bulan? Kenapa aku jadi bingung, toh biasanya
aku tak peduli dengan apapun urusan ayahku, tak biasanya.
“Sudah
mandi kak?” tanya Bi Inah pengasuhku sejak kecil.
“Sudah
bi, Desi mana?” tanyaku penasaran karena meja makan hanya ada aku sendiri.
“Adek sudah berangkat tadi, bareng
sama ibu.” Jawabnya sambil membersihkan
piring
bekas
Desi sama bunda.
Bi Inah berjalan kembali menuju dapur,
aku tahu bunda sama Desi pasti nemenin ayah ke pertemuan rutin dengan
kolega-koleganya. Terngiang kembali pikiran tentang perkataan ayahku pagi tadi.
Sudahlah bisa kutanyakan nanti kalau aku mau.
“Bi,
aku pergi, nanti
kalau bunda tanya aku kerumah Azzah.” Teriakku ke arah dapur.
“Iya
kak, hati-hati.” Sambungnya dengan
sedikit berteriak.
“Iya.”
********
Sesampainya di rumah Azzah kulihat Syafiq dan Afifah
tengah duduk dan bermain gitar di teras belakang dengan satu bungkus snack ringan berukuran extra besar di pangkuan Syafiq. Seperti
biasa rumah Azzah adalah tempat dimana kita berempat biasa berkumpul. Selain
udaranya yang segar camilan disini juga terjamin. Itulah sebabnya kita memilih rumah
Azzah sebagai pos kedua setelah rumahku.
“Hei
Bil, sini ngapain bengong disitu.” Seru Afifah dengan melambaikan tangannya ke
arahku.
“Udah lama kalian? Sorry
banget macet weekend sih, para
kurcaci Jakarta pada ngerayap ke
tempat
wisata.” Tanyaku sambil mencomot snack
Syafiq dan pelototan tajam darinya .
“Ya udahlah, lo sih kemarin malem
suruh nginep nggak mau, telat kan lo sekarang.” Jawab
Azzah
sambil menggerak-gerakkan tangannya diatas senar gitar coklat miliknya.
“Iya Sori, emang si coklat dari tadi
malem nggak ngrengek tuh lo petik mulu. Bosen kali dia, apalagi kalo dia bisa
ngomong, uh udah pasti dia bakalan bilang kayak gini, gue mau lari dari
kehidupan ini, gue mau bebas, tangan si Azzah terlalu kasar buat nyentuh setiap
body gue, tuh ketek selalu nempel di body gue dan baunya itu bikin kiamat jadi
sebentar lagi, tolong aku Tuhan... aku tersiksa. hahahahha....”
Tawa
kami terlepas keras dan tanpa aku sadari tubuhku sudah dihujani cubitan dan
pukulan dari Azzah.
“Apaan
sih lo nggak lucu tau, lagian lo berdua ngapain ikut ketawa! eh denger ya, si
coklat tuh kalo nggak gue sentuh sehari aja pasti dia bakalan bilang kayak gini
aduh kangen sama petikan si cantik, harum dan jenius itu deh.” Katanya
membela diri.
“yee..
..lo beudue paa giya yaw( yee.. lo berdua pada gila ya).” Ucap syafiq dengan
makanan penuh dimulutnya.
“Telen
dulu gendut baru lo ngomong, katanya lo mau diet baru juga turun seons naiknya
tujuh kilo.”
“Tau
tuh, katanya lo mau narik perhatiannya Desi gimana sih lo, kalo lo tiap hari
kayak gini dijamin adek gue nggak akan mau sama lo, biaya hidup mahal sama lo.
Hahahaha”
“
Yaudah gue mau stop makan mulai hari ini, tapi kalau abis ini mbok darmi bawa
lagi ya, gue nggak mau nolak.” Katanya sambil meletakkan snack itu dari tangannya.
“
huu..... dasar doyan makan lo, eh ngomong-ngomong lo pada, tahu masalah sungai
yang dicemari limbah Peternakan Danggu?”
tanya Afifah membuka percakapan keseriusan.
“Nggak,
gue baru denger malah, kenapa emang?” tanyaku penasaran
“Itu
bukannya Peternakan bokap lo ya Bil?” tambah Syafiq.
“He.em,
gue malah nggak tau apapun, dapet berita darimana Fah?”
“
Dari media, lo kemana aja sih, makannya kalo punya tv tuh diliat jangan
dianggurin, tuh
koran juga banyak dipajang dipinggir jalan nganggur, beli atau baca kek.”
“Sumpah
deh gue nggak tau, lagian orang di
rumah
juga pada diem nggak ngomongin hal ini sama sekali. Lo salah denger atau liat
kali jangan macem-macem lo nyebar
gosip
murahan kayak gini.” Belaku santai
“Apaan,
nggak, Azzah tahu juga kok. Kemarin kita liat bareng di tv, katanya hari ini pemilik dari Peternakan itu mau
klarifikasi masalah ini, yang berarti itu bokap
lo.”
“Mana tv lo gue mau liat, nggak
percaya gue. Awas ya kalo lo pada ngarang cerita, ini masalah serius. Dan gue yakin bokap gue nggak mungkin mencemari lingkungan sekitar
peternakan, orang
limbahnya aja diolah juga. Dan bokap gue nggak mungkin sejahat itu mau
merusak
biota sungai.” Kulangkahkan kakiku menuju ruang tv diikuti Azzah dan yang lainnya.
Sepertinya apa yang aku lihat memang benar, itu ayah
bersama pak Hadi
selaku penanggung jawab salah satu peternakan ayah yang ada di Jombang. Beliau
terlihat tenang namun, dibalik ketenangan itu menyimpan semburat kekecewaan.
Kasus ini datang tiba-tiba disaat peternakan ayahku sedang berkembang sangat
apik, dan mulai sukses. Mungkin memang ada beberapa orang yang iri atau tidak
suka dengan keberhasilan ayahku. Aku ingat waktu pertama kali ayah meresmikan
peternakan sapi perahnya di Jombang empat tahun lalu memang sempat ada pro
kontra terhadap usaha ini. Sebagian warga disekitar sana setuju dengan alasan
kampung mereka berarti strategis dan berpotensi besar untuk pembangunan desa. Sebagian lainnya menolak karena
dianggap akan mencemari dan memblokade
mata pencaharian warganya. Namun karena kegigihan ayah yang kuat dan pemberian
arahan serta bimbingan akhirnya warga disana setuju namun dengan syarat
peternakan itu harus mengolah benar-benar limbahnya. Mereka tidak mau kalau
desa mereka akhirnya tercemar baik kotoran hewan maupun yang lainnya. Dan
ayahku setuju dengan perjanjian itu bahkan sebagian warga banyak yang bekerja
di peternakan itu. Dan sekarang ayahku digugat oleh salah satu warga karena
dianggap lalai dengan pengolahan limbah peternakannya. Peternakannnya dianggap
telah mencemari lingkungan sungai disekitar sana. Sungai yang sehari-harinya
digunakan warga untuk mencuci kini lumpuh total akibat pencemaran itu.
“
Apalagi bau yang ditimbulkan sangat mengganggu pernafasan dan penciuman.”
Itulah salah satu
komentar warga yang terlihat di layar televisi itu, rautnya penuh kebencian dan
kekecewaan. Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan teman-temanku menggeleng
tak percaya. Kini
giliran ayahku memberikan keterangan didampingi dengan pak Hadi dan om Rudi selaku pengacaranya.
“Saya
rasa telah terjadi kebocoran pipa gas buang, sehingga kotoran yang seharusnya
mengarah ke bak pengolahan bocor dan tumpah ke saluran yang mengarah ke arah
sungai. Saya minta maaf atas kecerobohan dari pihak kami.” Ucapannya ditutup
dengan permohonan maaf dan mereka memutuskan untuk mengakhiri klarifikasi hari
itu. Kubalas tatapan teman-temanku tanpa bisa berkata apa-apa. Sepertinya
mereka mengerti apa yang sedang kurakasan kini. Tanpa pikir panjang aku
langsung bergegas dan mengambil tasku di sofa teras belakang Azzah dan langsung
pergi.
“Mau kemana lo Bil?” tanya Azzah mengagetkan
langkahku yang terlihat buru-buru.
“Mau
pulang gue, liat berita tadi kayaknya gue perlu bikin perhitungan sama bokap.”
“Tapi,
itu bukan sepenuhnya salah bokap lo
juga bil, mungkin karyawannya lupa ngecek
pipa atau yah, seperti apa yang dijelaskan bokap lo tadi, itu murni kebocoran.”
“Lo
tau kan gue di sekolah ikut ekstra apa, dan lo semua juga tau kan di ekstra
kita itu melarang keras yang namanya
pencemaran, penebangan, dan
pemusnahan. Dan kita sebisa mungkin melakukan konservasi.”
“Iya gue ngerti, dua kali lebih
faham dibanding lo, cuman kan keadaannya nggak memungkinkan,
lo tau kan bokap lo saat ini lagi
banyak pikiran, lo sebagai anak harusnya
ngerti dong.” Kata
Syafiq dengan nada kecewa terhadapku.
“ Lagian kita bisa lihat dulu
perkembangan dari kasus ini, udahlah lo tenangin pikiran lo, jangan gegabah
terus nyalahin bokap lo.” Jangan
gegabah? Apa sih yang ada difikiran Afifah, sama temen-temen gue ini? Aku tahu
maksud mereka baik namun untuk saat ini aku harus pulang segera dan menyanyakan
secara gamblang masalah ini sama ayah, aku tak peduli dengan teriakan
teman-temanku yang memanggil namaku dan melarangku untuk pergi. Tapi aku rasa
saat ini inilah keputusan terbaik
untukku.
********
Sesampainya dirumah kutunggu ayahku di ruang keluarga.
Aku tahu ayahku pasti akan melewati ruang ini untuk menuju ke kamar ataupun ke
ruang kerjanya. Benar saja hampir dua jam lamanya aku menunggu sambil menonton
televisi beliau datang bersama Desi dan bunda. Wajahnya sayu dan letih
sepertinya itu terlihat juga di wajah bunda dan Desi yang biasanya selalu
berteriak-teriak saat melihatku hanya bemalas-malasan di depan tv. Tapi hari
ini lain, sepertinya bunda sengaja membiarkanku begitu saja dan Desi juga tak
peduli denganku, bahkan ia ikut-ikutan tidur di sofa sebelahku. Ayah hanya
memandangku dan mengangguk sambil melanjutkan langkahnya menuju kamar bersama
bunda.
“ayah,
aku mau bicara sekarang.” Ucapku mendesak dan mengikuti langkahnya.
“Tidak
sekarang kak, ayah sedang lelah.” Jawabnya berat dan lemas.
“Tapi
ayah, ini menyangkut tentang...” belum selesai aku berbicara sudah dipotong
oleh bunda.
“Ayah
benar kak, ayah perlu istirahat kasihan ayah, seharian disudutkan dan kamu tahu
itu.”
“Sudah bunda, bunda masuk dulu nanti
ayah nyusul.” Kata-kata ayah dan isyaratnya nampak diikuti
oleh bunda meski berat hati.
“ Kasus peternakan? Ayah tahu, kamu
mungkin kecewa sama ayah tapi.......” kalimatnya berhenti begitu saja diikuti
dengan helaan nafas panjang dan
“Baiklah ayah perlu mandi dan
mungkin kamu juga begitu, selesai makan malam temui ayah diruang kerja kita
bisa ngobrol masalah ini berdua.” Tanpa persetujuan dariku tangannya menepuk
lenganku dan meninggalkanku begitu saja menuju kamarnya.
Kuhampiri Desi yang sedari tadi sudah mulai sibuk
membenamkan diri di sofa untuk tidur tanpa memikirkan bau badannya yang sedari
pagi baru diguyurnya sekali.
“Dek,
kamu mandi kek, bau tau.”
“Bentar ah, mau tidur setengah jam
aja, ntar bangunin aku ya kak, capek banget seharian.” Ucapnya disertai dengan
menarik bantal sofa menutupi wajahnya.
Kubuka
penutup wajah itu dan rengekak-rengekan kecil yang manja dan marah yang
kuterima. Tanpa lama-lama aku langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi
sama ayah hari ini.
“Tau
ah, Desi ngantuk kak, mau tidur bentar aja.”
“Oh,
oke kakak nggak akan ngajakin kamu kalo kakak sama temen-temen kakak mau camping.”
Aku tahu adikku yang satu ini selalu ngintilin kakaknya kalau aku lagi berkemah
sama teman-teman. Dia memang hobi banget sama camping dan hiking.
Bahkan sebenarnya aku nggak tahu mau camping kemana, sama siapa dan
kapan. Cuman hal itu bisa dipikir nanti. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa
mengatakan hal seperti itu.
“Camping? Kapan? Kemana? “ tuh kan bener, adikku langsung bangun dan bahkan sangat antusias.
Ini adalah trik yang sering aku gunakan selain jalan-jalan bersama.
“Jawab
dulu pertanyaan kakak, baru kakak kasih tau kemana dan kapan.”
“Hu.... dasar, kalau ada maunya aja gitu. Eh tapi bener
ya awas kalau bohong.” Sambil mengancamku tangan kanannya mengepal dan dan
mengarahkan ke depan hidungku yang indah.
“Iya.
Emang kakak pernah bohong, nggak kan?”
“Heh,
enggak kalau sadar. Nah kalau nggak sadar rajanya buat
bohong.”
“Iya,
deh bener kalau kali ini.”
“janji?”
“Iya, adikku yang cantik, imut dan
pinter.” Kupencet hidungnya yang mungil dengan sengaja untuk meyakinkannya.
“Aduh,
sakit tau, mau dikasih tahu nggak nih?”
“maaf..maaf,
iya dong, udah buruan apa.”
“huh,
jadi gini tadi itu ayah klarifikasi masalah peternakannya yang ada di Jombang
itu. Nah, dari klarifikasinya itu tidak disambut baik sama warga di sekitar
peternakan. Bahkan ada beberapa warga yang demo di depan peternakan itu supaya
menutup peternakan. Mereka
nggak mau kalau pencemaran itu meluas dan mencemari daerah lain sekitar
peternakan. Ayah sempat bingung banget dan sempat mau meratakan peternakan itu.
Bahkan tadi bunda sempet adu argumen sama ayah tentang perataan peternakan itu.
Ayah ngasih waktu ke pak
Hadi
penanggung jawab peternakan Jombang buat ngeratain semua
peternakan itu selama 2 bulan. Dan itu barang tentu udah buat bunda marah dan shock.” Kalimatnya
berhenti ketika Desi memandangku tak berkedip.
“Kakak
dengerin aku nggak sih? Aku kan capek udah ngomong panjang lebar, kesana kemari dan kakak cuman diem . bilang kek
oh, um, gitu atau apa kek, yaudah kalau gitu aku mau mandi dulu.” Sepertinya dia kecewa dan menganggapku tak
memperhatikan setiap ucapannya. Padahal sedari tadi aku mendengarkannya sangat
apik dan berusaha mencerna setiap kata-katanya.
“Iya
kakak denger kok, gitu aja ngambek, Desi kakak belum selesai nanya sini dulu.”
“Bodo,
udah ah males ngomong sama kakak.” Serunya sambil berteriak diikuti dengan
manaiki tangga menuju kamarnya.
“Campingnya?”
“Males
kalau kakaknya kayak gitu.”
“Yaudah.”
Pandanganku
masih tertuju pada anak tangga yang ditinggalkan Desi yang semakin lama
bayangannya semakin menghilang. Aku mencoba mencerna kembali kata-kata Desi
mengenai perataan peternakan. Aku baru ingat pagi tadi ayah sempat menelpon
seseorang untuk perataan. Apa mungkin itu pak Hadi, dan ayah juga mengatakan
kalau hanya dua bulan waktunya. Entah kenapa aku sangat yakin dengan apa yang
aku degar tadi pagi dan apa yang disampaikan Desi barusan.
“Kak,
kamar mandi di kamar kakak sudah di benerin tadi siang. Sekarang sudah bisa
dipakai, sok atuh di coba.” Lamunanku dibuyarkan oleh suara Bi Inah yang
tiba-tiba sudah didepanku.
“Eh,
iya terimakasih ya bi. Nanti dicoba.”
“Sekarang
saja, itu bau badannya dari pagi kan baru mandi sekali kak.”
“Hehehehe,
iya deh nanti Bi Inah klepek-klepek lagi nyium baunya.”
“Ya.
Makannya sok mandi, bau.
Nanti
bisa pingsan saya teh.”
“Iya
Bi Inah. Mau dimandiin lagi dong kayak dulu.” Sengaja aku menggodanya.
“Ih,
kakak malu atuh ih, sekarang mah kakak sudah gede pisan jadi bisa mandi sendiri.”
Jawabnya dengan sedikit malu.
“Iya deh, aku mandi.” Kulangkahkan
kakiku menuju kamarku di lantai dua dan meninggalkan Bi Inah diruang keluarga
yang sedang merapikan sofa yang sudah berantakan karena ulahku yang berantem
kecil sama Desi.
********
“Ayah.” Sapaku saat memasuki ruang
kerjanya dan terlihat beliau sedang duduk di sofa. Sepertinya beliau sudah
menungguku sejak hampir setengah jam yang lalu seusai makan malam.
“Duduk
kak.”
“Maaf
ayah, aku terlambat. Tadi masih ngajarin Desi bikin PR kimianya.”
“Iya,
tidak apa-apa.”
“Ayah,
aku nggak tau harus memulainya darimana.”
“Ayah
mengerti. Pasti kamu sangat kecewa sama ayah kan? Kamu dengar apa yang ayah
bicarakan di telepon tadi pagi?”
“Iya denger.bahkan tadi siangpun saat aku ada di
rumah Azzah aku nonton ayah di tv.”
“Iya,
persoalan ini rumit Sabil. Ayah sebenarnya bingung harus bagaimana. Limbah itu
sebenarnya memang sengaja dialirkan ke sungai karena memang daya tampung bak
pengolahan itu masih penuh. Dan pembangungan bak kedua belum selesai.”
“Ha?
Ayah sengaja nyuruh pak Hadi
ngalirin limbah kotoran itu ke sungai? Apa sih yang ada dipikiran ayah he? Ayah
tahu kan sungai itu sangat penting untuk mereka. Itu satu-satunya mata air bersih ayah. Dan ayah tahu itu sudah
menyalahi perjanjian itu?” Hanya anggukan kecil tanda beliau
tahu dan sedikit kata yang terucap dari mulutnya.
“Iya
ayah tahu.”
“lalu
apa tindakan ayah?”
“Bunda
melarang ayah untuk menutup dan meratakan peternakan itu. Sementara ini ayah
masih mengupayakan untuk penyuplaian air bersih dan ganti rugi untuk masyarakat
disana. Dan ayah mau kamu pergi ke daerah Tretes Jombang. Disana ada beberapa
peternakan kecil dan pengolahan hasil dari ternak mereka. Tiga hari saja.”
“Untuk
apa ayah? Jadwalnya?”
tanyaku bingung untuk apa beliau menyuruhku pergi ke sana.
“Ayah
mau kamu tahu tentang pengolahan dan pemanfaatan dari setiap bagian dari peternakan. Lagian ayah dengar kamu
mengikuti ekstra tentang lingkungan hidup. Dan ayah yakin kamu akan senang
disana. Jadwalnya minggu depan. Kamu bisa ajak temen-temen dan adek kamu juga.”
Kalimatnya ditutup dengan ucapan selamat malamnya kepadaku dan menyuruhku
segera beristirahat.
Aku keluar dari ruang kerja ayah dan
menuju kamarku untuk tidur. Sesampainya dikamar aku tak langsung tidur
melainkan menghubungi teman temanku satu persatu untuk ikut denganku. Mereka
memang kaget, namun akhirnya mereka menyetujui dan siap menemaniku. Tak lupa
ini adalah ide bagus untuk menepati janjiku untuk camping dengan Desi. Aku tahu dia pasti senang dan tak ada yang
lebih membahagiakan selain melihat adik perempuanku satu-satunya bahagia.
Lambat laun mataku sudah menutup dan aku berada di alam bawah sadar dan terbawa
oleh mimpi yang indah dan menyenangkan. Aku tertidur.
********
“Gimana
semua siap?” tanyaku sambil menggendong tas camping
super besar dan tenda berada di tangan kananku.
“Siap.”
Seru semua teman-teman dan adikku tentunya.
“Lets’go!”
Sesampainya kami di Tretes aku Syafiq dan Afifah segera
menancapkan pasak sebagai penopang dan penguat tenda. Sedang Azzah dan Desi
nampak sibuk mempersiapkan kayu untuk api unggun kami. Tretes memang daerah
pegunungan yang sejuk dan indah udaranya segar maka tak heran banyak sekali
para wisatawan yang datang untuk camping
dan mendaki. Seusai menegakkan tenda dan api unggun juga nampak sudah siap untuk dibakar aku dan teman-temanku hendak berjalan-jalan untuk mengisi udara sore yang sejuk. Meninggalkan bumi perkemahan dan mulai berjalan,
melewati jembatan indah dibawahnya mengalir sungai deras dan jernih. Pandanganku
terpaku pada sebuah gapura besar menuju kearah sebuah pagar tinggi yang menutup
hampir seluruh bangunan di dalamnya. Sebuah plat besar berada di tengah-tengah gapura
bertuliskan “ KOPERASI SUSU TRETES”. Apa ini yang dimaksud ayah?Ini koperasi besar
untuk ukuran sebuah desa kecil diatas pegunungan ini. “Kak, ayo!” suara Desi menghancurkan
lamunanku.
“Eh, iyaiya. Besok kita masuk kedalamya
guys. Gue mau observasi di sini”
ucapku penuh keyakinan.
“Oh, jadi ini yang dimaksud bokap lo
bil?”Azzah yang Nampak penasaran langsung menanyakan kepadaku.
“Kayaknya sih iya.”
Syafiq dan Afifah memang memilih untuk
melanjutkan perjalanan, mereka tak menghiraukanku yang sedari tadi menatap bangunan
tinggi itu.
“lo udah izin buat masuk ke dalam?”
“Bokap gue bilang sih udah. Bahkan sebenarnya kita disiapin
penginapan. Cuman karena gue pengen camping
jadi gue putusin buat nggak make penginapan itu. Lagian gue juga udah janji sama
Desi buat ngajakin dia camping.”
“Iya, kalau janjikan emang harus ditepatin. Iya nggak Mbak
Azzah?” tiba-tiba Desi menengahi pembicaraanku dengan Azzah.
“Iya dong, eh kamu gimana sekolahnya? Lancar?”
“Iya lancar mbak, habis jalan-jalan kita mau ngapain? Katanya
aku denger disini ada air terjun indah banget diatas sana. Beneran?”
“Makan dulu, habis itu bisa menikmati udara malam yang
indah di sini. Oh iya kalau masalah air terjun itu mbak juga belum tahu. Gimana
bila ada?”
“Iya ada.Mau liat? Hari terakhir di sini aja kita kesana.
Kalau besok kita harus ke koperasi itu.”
“Boleh.” Azzah dan Desi menjawab bersamaan dengan semangat dan kompak.
********
Sejuk, dingin, segar itulah gambaran
udara pagi ini. Embun pagi masih menyelimuti desa ini dengan gagahnya. Di depan
pagar tinggi yang menutup bangunan di dalamnya. Disitulah sekarang aku berdiri bersama
teman-temanku dan juga adikku tentunya. Menunggu satpam koperasi membuka pagar besi,
beberapa orang tampak menyapa kami dengan senyum. Beberapa mobil box juga keluar masuk melalui pagar besar ini.
Tak lama kemudian pintu kecil sebelah pagar besar itu terbuka dan seorang satpam
menyuruh kami untuk masuk.Ternyata benar, bangunan di dalamnya juga tampak
besar dan panjang. Seorang petugas koperasi menyambut kami dengan sebuah kendaraan
yang mirip dengan mobil namun terbuka, menyuruh kami segera naik dan berkeliling
dengannya.
“Sebelumnya saya ucapkan selamat datang kepada kalian,
dan terimakasih sudah bersedia mampir ke koperasi desa.” Itulah kalimat pertama
yang muncul dari mulut petugas ini.
“Iya, sama-sama.Oh iya, ini dengan bapak siapa?”
“Maaf-maaf saya sampai lupa memperkenalkan diri. Saya
pak Indra selaku penanggung jawab dan pengawas koperasi ini. Ini pasti Mas Sabil?”
“Eh, bukan-bukan pak. Saya Syafiq, kalau Sabil mah
yang itu,hehehehe.”
“Iya pak saya.”Kataku seraya menjabat tangan pak Indra.
“Kalau tiga cewek cantik ini pasti salah
satu adiknya Mas
Sabil sama temennya.”
“Kok bapak tau. Iya ini adik saya Desi, ini Azzah
dan satu lagi ini Afifah.”
Azzah dan Desi menjabat tangan pak Indra bergantian tanda perkenalan.
“Iya, kemarin ayah kalian menghubungi saya dan memberitahu
pihak koperasi akan ada kunjungan dari para anak remaja yang ingin belajar dari
peternakan ini, sebelumnya saya juga mau mengucapakan terimakasih lagi karena telah
bersedia mengunjungi tempat kami. Mungkin ini adalah koperasi terbesar di desa ini.
Dan saya ikut prihatin dengan kasus yang menimpa ayah mas..”
“Iya pak terima
kasih sudah peduli. Yah
namanya juga usaha. Kadang di atas kadang di bawah.”
“Iya, roda memang selalu berputar, mas-mas dan mbak-mbak
sekarang saya akan menunjukkan tempat pemerahan susu.”
“Oke pak, kita bisa minum langsungkan?” seru Syafiq dengan
antusiasnya.
“yeee.. lo mah kalau soal kayak ginian aja cepet.” Celetuk
Afifah gemas.
“Bisa, tapi lebih enak diolah dulu mas, nanti saya tunjukkan
tempatnya dan kalian bisa mencobanya.” Terang pak Indra dengan senyuman yang
tak pernah hilang dari bibirnya.
Setelah berkeliling
peternakan dan menikmati susu segar aku dan teman-temanku serta adikku menuju
ke tempat perkemahan. Dan yang paling penting hari ini ada pelajaran berharga
yang kita dapatkan. Ya, mengolah limbah, sebenarnya inilah tujuan utama ayah
mengirimku kesini untuk mengetahui cara pengolahan limbah dan kelak akan diterapkan
di peternakan beliau. Baru aku tahu ternyata limbah kotoran disini diolah
sendiri bahkan koperasi ini juga menerima limbah kotoran dari para peternak
kecil di sekitar koperasi itu. Hal ini tentu sangat berbeda dengan peternakan
ayah yang menjual semua limbahnya kepada para penadah dan pabrik kompos. Itu
bukan tanpa alasan, melainkan karena ayah belum sanggup untuk mengolahnya
sendiri. Selain sarana dan prasarana yang belum mencukupi pihak pengolah limbah
sendiri juga belum ada. Jadi , ketika ayahku memutuskan mengalirkan limbahnya
ke sungai saat itu alasannya adalah pihak pabrik yang biasa mengambil limbah
tersebut tidak mengambilnya dalam jangka waktu yang cukup lama , kira-kira
hampir dua minggu. Tentu saja bak penampungan yang biasa cukup untuk menampung
limbah lima hari hingga satu minggu itu penuh dan terpaksa pihak penanggung
jawab peternakan P.Hadi memutuskan mengalirkan limbahnya ke sungai meski hanya
seperdelapan saja dan tentu dengan persetujuan ayah.
Untuk koperasi ini
mengolah limbahnya dengan dijadikan pupuk kompos dan biogas untuk kebutuhan
memasak masyarakat sekitar koperasi. Kompos itu sendiri juga untuk
mensehjahterakan para petani sayuran di sekitar koperasi tersebut. Jadi semua
limbah tidak ada yang dibuang. Nah,untuk pengolahan kompos sendiri aku dan
teman-teman serta adikku turut melihat dan mencoba. Untuh bahan-bahan dan
alatnya sudah disiapkan dari pihak koperasi aku dan teman-temanku tinggal
mengolah. Berikut bahan,alat dan cara pembuatannya.
Bahan:
- Kotoran
ternak. Sapi, (2 ton / 2000kg)
- Jerami
yang dicacah terlebih dahulu kurang lebih 5-10 cm. (secukupnya)
- Arang
Sekam (secukupnya), Sekam yang sudah dibakar namun tidak samapi menjadi
abu. lihat proses pembuatan arang sekam
- Air (20
liter)
- EM4 (5
sendok makan)
- Gula
pasir (5 sendok makan)
- Bubuk
gergaji atau bisa juga dengan dedaunan dan bahan-bahan organik lainnya.
Alat:
- Sekop
- Cangkul
- Sarung
tangan
- karung
goni
Setelah selesai
menyiapkan semuanya aku mulai belajar mengolahnya disini. Pengolahannya masih
menggunakan cara manual dan sedikit-sedikit. Kira-kira seperti ini tutorialnya
:
· Siapkan media
pembuatan pupuk, ditempat yang sejuk tidak terkena matahari langsung dan tidak
kena hujan jika terjadi hujan.
· Larutkan EM4
dan gula kedalam air.
· Lapisan
pertama, Campurkan Kotoran ternak dengan arang sekam kemudian aduk hingga
merata, setelah itu taburkan dekomposer (EM4 dan gula yang sudah dilarutkan
dalam air) tadi secukupnya aduk hingga merata.
· Lapisan Kedua
Taburkan jerami, dedak, bubuk gergaji dan bahan-bahan organik lainnya hingga
merata kemudian siramkan dekomoser tadi.
· Setelah itu
tutup rapat tumpukan bahan-bahan tadi dengan rapih dengan menggunakan karung
goni dan jerami.
· Hari Kedua
aduk adonan tersebut hingga merata dan tutup kembali rapat-rapat.
· Lakukan
monitoring setiap pagi dan sore, dengan cara memasukan tangan (dengan sarung
tangan) jika tangan kita tidak kuat menahan panas adonan maka adonan belum siap
dipakai. aduk setiap melakukan monitoring.
· Biasanya hari ke empat adonan sudah siap,
cara menceknya masukan tangan anda jika bisa menahan panas adonan maka pupuk
kompos organik siap dipakai.
“uh... gue jijik banget
awalnya , tapi pas nyentuh nggak ada jijik-jijiknya.” kata Azzah
“iya aku juga mbak. Cuman
baunya itu lho yang bikin muntah.” Tambah Desy
“Nah sekarang lo pada tahu
kan gimana cara ngolah e-ek. Kalo gitu olah e-ek gue gih.” Timpalku asal.
“ih , ogah banget” Seru semuanya
serempak dan kompak seolah dikomando.
“Tau, jorok banget lo bil, ngolah
e-ek sapi aja gue ogah apalagi ngolah e-ek lo. Ueeek..” kata Syafiq sambil
merapikan ranselnya seraya berpura-pura muntah.
“Apaan lo, jadi cowok tuh harus bisa
ngapain aja. Masak lo takut cuman sama e-ek sapi.. huuu...” seruku tak mau
kalah
“ih, gue nggak takut kali, cuman
lagi nggak mood aja sama e-ek sapi . abisnya tuh e-ek rese’ pakai
nimbulin bau lagi”
“ Gendut, itu bukan e-eknya yang rese’
lo nya yang nggak ada nyali. Badan aja gede, sama e-ek sapi lo keok.” Sahut
Afifah.
“Kan setiap orang beda-beda mbak,
mungkin emang Mas Syafiqnya phobia sama e-ek.” Sambung Desy seolah membela
Syafiq.
“Ceileh...dibelain lagi.
Gendut, makin semangat aja ngurusin badan abis ini.” Seruku disertai ledak tawa
kami semua.
“yee.... apaan sih lo. Tapi makasih
ya cantik.”
“cacar bintik-bintik keles.”
Celetuk Azzah dan tawa kami kembali meledak.
“Udah- udah kalian pada capek-kan
abis ini kita istirahat bentar , terus beres-beres ya kita pulang sore ini.”
“Ha sore ini? Kok mendadak banget
sih.” Tanya Azzah dengan ekspresi kagetnya yang diikuti semuanya.
“Kok sore ini, bukannya kita besok
mau naik liat air terjun itu?.” Tanya Syafiq penasaran.
“Iya , ayah gue nelpon , katanya
kita harus segera balik ada hal penting yang mau dibahas tentang observasi ini
dan masalah naik ke air terjun itu bisa bulan depan. Kita ada libur satu minggu
akhir bulan depan.”
“Yah, tapi kan aku nggak libur kak.”
“Kamu bisa nyusul pas weekend dek,
gimana mau”
“huh oke deh bisa.”
“Gimana sama kalian guys?”
“Kita sih terserah lo, tapi makasih
ya, ini pelajaran yang berharga banget buat kita ya nggak guy?” tanya
Afifah .
“Iya bener banget.”
“Yaudah sekarang kita istirahat 2
jam habis itu kita pulang. Selamat istirahat semua.”
“Iya”
********
Akhirnya
sampai juga aku di rumah. Kuhempaskan tubuhku diatas tempat tidur yang sudah
beberapa hari ini kutinggalkan untuk misi mulia membantu peternakan ayah. Huh..
empuk sekali , semilir angin jendela kamarku masuk dengan lembut dan membuatku
lelap dalam tidurku dngan badan apek yang belum kuguyur dari pagi tadi.
Malamnya,
seusai makan malam ayah memintaku menemuinya di teras belakang. Tumben,
biasanya ayah selalu memintaku menemuinya di ruang kerjanya. Mungkin udara
malan seperti inlah yang dirindukannya.
“Apa
yang kalian dapatkan dari sana kak?”
“Banyak
yah, Udaranya adem enak banget.”
Iya, memang
udara di sana sangat segar jauh dari polusi udara. Masyarakatnya juga sangat
menjaga lingkungannya.”
“Iya yah, aku
nggak nyangka ada koperasi besar di sana.”
“Memang, itu
adalah koperasi desa kak. Masyarakat yang mempunyai peternakan juga menyuplai
susu dan limbahnya disana.”
“Ya, ayah benar.
Bagaimana perkembangan kasus ayah?”
“Alhamdulillah
kak, Kita memilih jalur damai asalkan limbah itu benar-benar diolah dan ini
juga kesempatan terakhir peternakan ayah beroperasi.”
“oh, jadi ini
alasan ayah mengirimku kesana?”
“Iya, dan ayah
juga sudah mencari orang untuk mengatur pengolahan limbah ini. Dan ayah harap
kamu bisa mengawasi mereka.”
“Tapi kan aku
baru sekali ayah.”
“Tak apa kak,
ayah percayakan ini semua sama kakak.”
“Baiklah.”
“Ya sudah ,
sekarang sudah malam sebaiknya kita tidur. Kembalilah ke kamar kak. Selamat
malam kak.”
“Iya malam ayah.”
*************
Pagi ini aku ke peternakan ayah,
ditemani dengan Desy dan kita mengawasi betul detail demi detail pengolahan limbah
itu. Sesekali aku dan Desy memberikan pengarahan kepada para petugas itu. Mulai
sekarang limbah itu bisa diolah dan tidak akan mencemari lingkunan lagi. Seusai
dari peternakan aku dan Desy memutuskan untuk pergi ke rumah azzah karena
sebelumnya aku sudah membuat janji dengan mereka untuk berkumpul hari ini.
“hei guys, lama tak jumpa. Kangen
gue sama kalian” sapaku.
“
ah, gaya lo aja bil” jawab Azzah.
“
iya tuh, gitarnya
sudah kangen sama kamu.”
sahut Afifah.
Aku dan teman-temanku tentunya adikku juga
bersenang-senang pada hari itu setelah lama tidak bertemu, apalagi setelah selesainya masalah peternakan
ayahku itu.
************